Connect with us

Musik

Denny Frust Konsisten Di Gendre Musik Reggae dan Ska

Published

on

Jakarta, dNewsstar.com – Musisi Denny Frust merilis album bertajuk “Mari Bergerak Kawan” di Black Sheep Restauran, Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu malam (7/9/2019), ia memiliki sebuah tanggung jawab untuk mempertahankan genre musik yang di usung saat ini yakni Reggae dan Ska.

“Target saya paling lambat satu setengah tahun saya sudah rilis album baru. Pertama untuk eksistensi, kedua untuk pembuktian bahwa pelaku genre musik ini masih ada yang survive sampai sekarang”, ujar Denny Furst.


Denny Frust merasa terpilih mewakili untuk genre musik yang dipilih olehnya bukan karena dia di tasbihkan menjadi The Prince of Ska Indonesia yang didapat dari Komunitas Internasional Reggae dan Ska Asia Tenggara dalam acara International Reggae Day 2016.

“Kalau di bilang saya membangun jaringan door to door, karena dengan bertemu maka jaringan akan kuat. Karena dengan door to door, saya bisa bisa berkomunikasi langsung, dengan sharing apa yang harus dilakukan agar genre musik ini bisa lebih baik dan diperhitungkan”, ungkap Denny Furst.

Seperti diketahui, Denny Frust telah merilis enam album studio, tiga diantaranya bersama beberapa band. Travelling (band Dancing Alaska, 1999), Senandung ‘Tuk Temani Harimu (band Nyiur Melambai, 2006), Big Monkey (band Monkey Boots, 2010), Interaksi (band Monkey Boots, 2015), Tiada Beban (2016), dan Jangan Lupa Bahagia (2017).


Di Album solo ini berisikan 10 lagu dan semuanya di ciptakan oleh Denny Furst sendiri. Album tersebut terlahir karena melihat keadaan genre musik yang dia usung tidak diperhitungkan serta curhatan teman mengapa seorang Denny Furst masih bisa jalan di genre musiknya. Dalam sebulan Denny Furst masih ada satu atau dua kali off air dan publish ratenya masih tinggi.

“Saya bisa karena ada pergerakan. Pergerakannya ialah sosial media, jumpa teman, membangun link up atau jaringan. Karena awal saya berangkat keluar negeri pun itu seperti itu. Jadi saya nga kenal teman cuma mengingat sosial media, saya berangkat ke Singapura, bawa CD, bawa Merchandise bertemu komunitas dan akhirnya sampai dapat undangan untuk manggung. Saya juga bilang kepada teman-teman agar kita harus lebih produktif semakin banyak yang rilis single atau album, maka genre musik ini makin diperhitungkan. Jadi memotivasi orang lain dan juga memotivasi diri sendiri”, jelasnya. (Ay)

Continue Reading